Senin, 21 Juli 2008

Kubur Wangi

Oleh: Azwar

Aku tidak menduga Man akan mati secepat itu. Dan yang lebih tak pernah kuduga adalah kematian Man yang sangat istimewa. Kata orang-orang kampung Man mati sambil tersenyum, wajahnya bersih memancarkan cahaya, dan jasad Man harum seperti jasad para syuhada Perang Badar. Aku tentu saja tidak percaya, hanya orang-orang sucilah yang bisa menemui kematian seperti kematian Man berdasarkan cerita orang-orang kampung itu.

“Sudah sampai Pak.”

Aku tersentak ketika kenek mobil menggoyang tanganku. Mungkin dia kira aku tertidur, padahal aku hanya melamun memikirkan kematian Man yang aneh itu. Saat aku lihat keluar jendela bus, malam semakin kelam, aku lihat suasana pool bus yang ramai oleh orang-orang yang menjemput kedatangan keluarganya berbaur dengan tukang ojek dan sopir taksi.

Baru saja turun dari bus, sopir taksi dan tukang ojek berebutan menawarkan jasa mereka.

“Taksi Pak?”

“Pulang kemana Pak? Saya antar?”

“Pakai ojek saja Pak, biar murah dan cepat.”

“Bapak kemana?”

Suara-suara itu berebutan masuk ke telingaku. Aku menggelengkan kepala sambil menutupkan tangan kemulut menghambat batuk. Sejak dari Terminal Raja Basa aku memang sudah merasakan batukku semakin menjadi. Saat itu istriku juga sudah mengingatkan untuk membeli obat batuk, tapi aku saja yang bandel, pantang sekali membawa persediaan obat-obatan. Tapi kini, baru aku rasakan bahwa saran istriku itu benar bahwa aku memang perlu membawa persediaan obat batuk.

“Taksi Pak..?”

Seorang lelaki kurus masih saja mengiringiku sampai ke pintu toilet.

“Tunggu sebentar, saya ke kamar kecil dulu.”

Aku berharap sopir taksi itu tidak menungguku, tetapi setelah aku selesaikan urusan di kamar kecil, dia masih berdiri sambil tersenyum menungguku.

“Kemana Pak?”

“Ke Kamang, berapa?”

“Biasalah Pak, lima puluh ribu.”

Aku kembali merasakan ternggorokanku gatal, tetapi suara batuk tidak keluar dari mulutku. Sambil mengusap-ngusap leher, aku menggeleng dan hendak pergi meninggalkan sopir taksi itu.

“Mahal sekali.”

“Berapa Pak, boleh ditawar, tapi itu sudah harga biasa Pak.”

Aku terus berjalan meninggalkan toilet, sopir taksi itu masih mengiringiku. Aku malas menawar ongkos, terlalu mahal sekali. Padahal lebaran tahun lalu aku hanya membayar dua puluh ribu. Kalaupun ada kenaikan ongkos, perkiraanku tidak akan semahal itu paling hanya tiga puluh ribu atau dua puluh lima ribu.

“Aku bayar dua puluh ribu.”

“Ah...bapak, terlalu murah Pak, sekarang minyak kan sudah naik.”

“Jadi berapa? Kalau lima puluh ribu aku tidak mau, terlalu mahal.”

“Kalau begitu empat puluh ribu saja Pak.”

“Dua puluh lima kalau kau mau.”

Sopir taksi itu terlihat berfikir sejenak, aku masih saja berjalan hendak menjauhinya, kalau dia tidak mau aku sudah berfikir akan naik ojek yang bisa mengantarkan dengan ongkos lima belas ribu.

“Iya Pak, mari saya antar, ini taksi saya.”

Akhirnya saya naik taksi lelaki kurus itu. Aku duduk di depan, sementara tas dan kardus bawaanku aku letakkan di kursi belakang. Setelah mengenakan savety belt, mobil itu aku rasakan melaju kencang.

“Tidak usah buru-buru.” Kataku.

Sopir taksi itu tersenyum ramah dan mulai berkonsentrasi menjalankan mobilnya. Cukup lama kami sama-sama terdiam, pikiranku kembali kepada kematin Man yang terasa ganjil. Belum lagi aku berlarut-larut dengan pikiran terhadap Man. Sopir taksi itu mulai menanyaiku.

“Di Kamang di mana Pak.”

“Di Tabik.” Jawabku pendek.

“Ooo...tadi siang saya baru saja mengantarkan penumpang ke sana.”

“Mmm.”

“Kabarnya ada kematian aneh di kampung Bapak, ada orang alim yang mati ditembak polisi.”

Aku tersentak, dengan reflek aku melihat kepada sopir taksi itu. Aku sudah menduga, pasti yang dibicarakannya adalah Man, yang telah aku pikirkan sejak sehari yang lalu.

“Orang shaleh?”

“Iya...dia ditembak polisi, kabarnya pemuda itu menyelamatkan seorang gadis yang akan diperkosa polisi itu, karena si pemuda alim ini sok jagoan membela perempuan itu, polisi itu menembaknya, persis di keningnya.”

Sesaat aku terdiam mendengar cerita sopir taksi itu. Kemaren aku juga sudah mendengar cerita yang sama dari Bapak lewat telpon. Walau tidak percaya, aku pulang menuruti pesan Bapak, sekalian sambil lebaran di kampung. Kata beliau, sebelum mati Man sempat minta maaf padaku. Dia memanggil-manggil namaku sebelum ajalnya dijeput yang kuasa.

“Kata orang-orang kampung, jenazah almarhum mengeluarkan sinar, bibirnya tersenyum walau pasti kematian itu menyakitkan, dan yang lebih ajaib lagi tubuh orang shaleh itu harum melebihi wangi minyak wangi.”

“Kamu menyaksikan dia mati?”

“Tidak, tetapi aku percaya kata orang-orang kampung itu, bahkan cerita tentang kematian orang shaleh itu sampai ke kampungku.”

“Memangnya kampungmu di mana?” Aku sebenarnya berusaha mengalihkan pembicaraan. Tetapi dia sepertinya sangat tertarik untuk membicarakan kematian Man.

“Aku di Kamang Hilir Pak, kan dekat dengan kampung Bapak, oh ia Pak, Bapak kenal dengan orang shaleh yang meninggal itu?”

Aku ragu, aku tidak tahu harus menjawab apa pertanyaan sopir taksi itu. Kalau Man yang dia tanya aku tahu sekali. Bagaimana tidak tahu lelaki brandal yang sering minta pertolonganku itu. Bahkan sebenarnya sebelum pulang ke kampung, sebenarnya Man sedang dikejar-kejar polisi karena lari dari tahanan.

Saat itu Man baru saja menujah seorang satpam di Pasar Bambu Kuning. Untunglah satpam itu tidak mati. Tetapi kejadian itu cukup untuk jadi alasan bagi polisi untuk menangkap Man. Namun karena kelihaian Man, dia berhasil melarikan diri dari tahanan. Orang yang dicarinya pertama sekali saat keluar tahanan adalah aku. Seperti biasa, Man selalu saja meminta nasehat dariku.

“Uda Sutan, tolonglah aku, aku sebenarnya sudah ingin tobat, tetapi gara-gara satpam itu aku jadi emosi lagi.”

Begitu cerita Man saat singgah ke tokoku. Aku sebenarnya khawatir dengan status Man sebagai buronan. Tetapi bagaimana lagi, dia sudah terbiasa minta perlindunganku saat kondisi seperti ini.

“Kau selalu saja bicara ingin tobat, setahun lalu setelah memperkosa di terminal, kau katakan akan tobat, beberapa bulan lalu juga kau akan tobat setelah merampok toko Cina, sebulan lalu kau juga berkata akan tobat setelah pesta minuman keras di jalanan dan kini setelah menujah orang kau katakan juga kau akan tobat.”

“Sungguh Uda..., aku benar-benar akan tobat setelah ini, makanya aku datang ke Uda minta petunjuk.”

“Ah...kau, sudah lelah aku menasehatimu, tapi kau masih saja buat ulah seperti ini.”

“Benar Da, bantulah aku sekali ini saja.”

“Pulanglah kau ke kampung, Man.”

“Aku minta nasehat Da...!”

“Iya...nasehatku kalau kau benar-benar ingin tobat, pulanglah.”

Setelah mendengar kata-kataku seperti itu, Man tidak lagi banyak bertanya. Tapi dia masih tidak beranjak dari ruangan belakang tokoku.

“Sudahlah Man, orang-orang mulai ramai, aku menunggui daganganku.”

“Tapi Da...”

“Tapi apalagi?”

“Aku tidak punya ongkos untuk pulang.”

Aku menggeleng kesal, tetapi bagaimana lagi, entah mengapa pula parewa ini selalu tunduk saat aku menatapnya dan aku selalu kasihan padanya. Makanya saat itu aku ulurkan beberapa lembar uang puluhan ribu padanya.

****

“Pak...sudah sampai.”

Sopir taksi yang mengantarkanku itu akhirnya menyadarkanku. Ternyata aku sudah sampai di kampung.

“Belum sampai di rumahku.”

“Di mana Pak?”

“Di depan sekolah.”

Aku kembali terdiam setelah menjawab pertanyaan sopir taksi itu. Aku turunkan kaca jendela, dari luar kuhirup udara desa yang semerbak oleh wangi bunga-bunga malam. Suara cericit binantang bergantian dengan gemersik dedaunan ditiup angin. Tidak lama aku sampai di depan rumah. Setelah membayar ongkos, aku turun dari taksi. Di ruang tamu lampu masih menyala. Pasti Bapak menunggu kedatanganku saat ini. Setelah aku ketuk pintu, ternyata benar. Bapak membukakan pintu untukku.

Setelah bertanya kabar berita, Amak membawakan teh panas untukku. Sebenarnya Bapak masih ingin mendengar kabar cucu-cucunya yang kali ini tidak kubawa pulang. Tetapi aku sudah mengalihkan pembicaraan pada persoalan kematian Man.

“Benar cerita kematian Man yang Bapak ceritakan itu?”

Bapak meminum air teh yang dihidangkan Amak. Beberapa titik air tersangkut di kumisnya yang meranting memutih.

“Iya...kau tanyalah kesemua orang kampung, sebenarnya aku yang ingin bertanya padamu, berguru kepada siapa Man di rantau sana sehingga pulangnya sudah menjadi orang shaleh saja.”

Aku semakin sakit mendengar cerita Bapak. Entah Man yang mana yang diceritakan beliau. Setelah aku tanya-tanya aku yakin Man itu masih Man sepupuku. Tapi tabiatnya saja yang tidak sama dengan yang kukenal saat di kota. Man brandalan, sepenuh pasar orang tahu, Man yang bejat mungkin semua orang-orang tua cemas akan ulahnya yang suka menganggu anak-anak gadis. Man yang sadis semua polisi tahu itu. Tapi kini bapak bercerita bahwa Man pulang kampung menjadi orang alim. Rajin shalat ke masjid, mengaji alquran sangat merdu, rajin shalat tahajud, shalat dhuha, rajin puasa senin kamis, bahkan matanya sudah cekung karena kurang tidur berzikir sampai larut malam. Siangnya Man tidak hanya tidur, dia ke sawah, ke ladang sebagaimana kebanyakan orang-orang kampung.

“Betapa cepatnya orang berubah”

“Berubah bagaimana maksudmu?”

Aku ingin menjelaskan tentang kelakuan Man di kota, tetapi aku tidak tega. Biarlah orang-orang kampung memandangnya sebagai orang shaleh, walau aku mengenalnya sebagai laki-laki yang penuh dosa.

“Tidak...maksudku betapa tidak terduganya nasib seseorang.”

“Iya betul...aku kira aku yang sudah tua ini yang akan mati duluan, tetapi ternyata Si Man yang masih jauh kecil umurnya dari pada aku itu yang lebih mati dulu mati.”

“Tapi...katanya Man mati dibunuh.”

“Iya...inilah petaka di kampung kita, orang terlalu takut pada orang-orang berkuasa, sehingga hanya orang-orang shaleh seperti Man yang berani membela orang-orang lemah.”

Aku tertegun mendengar cerita Bapak yang akan diulangnya lagi. Aku sudah menduga Man akan mati ditembak polisi, tapi kasusnya yang jauh berbeda. Aku menduga Man mati karena diburu-buru atas kejahatannya. Tetapi dia meninggal dunia karena membela kesucian seorang perempuan.

Larut malam bercerita dengan Bapak, Amak menyarankan pada kami untuk segera tidur.

“Besok cerita lagi, sekarang istirahatlah kau dulu, besok sahur harus bangun lagi.”

****

Pagi-pagi sekali saat matahari belum sempurna terbit, aku datang ke kuburan Man. Dari jauh aku lihat tanah masih memerah di atas kuburan. Dari jauh telah tercium wangi harum semerbak, mungkin harum bunga yang bertaburan, tetapi setelah dekat ke kuburan itu aku tidak melihat bunga-bunga yang bertaburan seperti kuburan orang-orang kota.

“Kuburannya wangi sekali.” Kataku dalam hati.

Di tepi kuburan itu aku lihat seorang perempuan berkerudung menangis sambil tertunduk memandangi kuburan Man. Dari belakang perempuan itu aku dengar doanya.

“Ya...Tuhan, izinkan aku menemuinya di sorga, walau hanya sekali saja.”

Menziarahi Orang-Orang yang Pernah Kukenal

September 2007.

2 komentar:

Jejak Kata mengatakan...

Selamat Atas Terbitnya Blog Sdr. Azwar!

Jejak Kata mengatakan...

tarimokasi zan

dima posisi